PROSES DIGITALISASI NASKAH KUNO KABUPATEN PEKALONGAN, 21 OKT 2026
Menyelamatkan Jejak Peradaban: Kala Lembar Kitab Kuno
Rifaiah Ditiup Roh Digital
PEKALONGAN, 21 Oktober 2026 — Lembar-lembar kertas
itu telah menguning, rapuh dikikis usia yang melampaui separuh abad. Di antara
tumpukan manuskrip tua milik masyarakat Kedungwuni, debu dan ancaman rayap
diam-diam mengintai. Namun, di dalam bait-bait tulisan tangan tersebut, tersimpan
kekayaan intelektual serta jejak perjuangan yang teramat berharga bagi
peradaban Nusantara.
Sadar akan ancaman kepunahan itu, Tim Dinas Kearsipan dan
Perpustakaan (Arpusda) Kabupaten Pekalongan berkolaborasi dengan Arpusda
Provinsi Jawa Tengah turun ke lapangan. Mereka menggelar aksi penyelamatan
bertajuk digitalisasi naskah kuno, melintasi sudut-sudut pesantren hingga
kediaman warga.
Pustakawan Arpusda Pekalongan, Kartika, mengungkapkan rasa
khawatirnya terhadap fisik naskah kuno yang kian lapuk. Tanpa intervensi alih
media, memori kolektif bangsa yang tertulis di atasnya bisa lenyap begitu saja.
"Kami melakukan digitalisasi agar nilai informasi
penting yang terkandung di dalamnya tidak punah. Ini adalah janji kita kepada
masa depan, agar anak cucu kita kelak tetap bisa membaca dan mempelajari
warisan para pendahulunya," tutur Kartika dengan penuh optimisme.
Perjalanan alih media ini tidak dilakukan secara instan.
Arpusda memulainya dari meja diskusi Focus Group Discussion (FGD), lalu
berlanjut ke penelusuran lapangan, hingga identifikasi ketat untuk memastikan
keaslian naskah berumur di atas 50 tahun yang masih ditulis tangan. Uniknya,
Arpusda menegaskan bahwa naskah fisik asli tidak akan disita atau diambil dari
pemiliknya. Dokumen sejarah itu tetap aman di tangan warga, sementara salinan
digitalnya didaftarkan ke Perpustakaan Nasional RI agar terdata dan
tersertifikasi secara resmi.
Merawat Warisan Sang Pahlawan Nasional
Salah satu titik krusial penelusuran ini berada di komunitas
Rifaiah Kedungwuni. Kepala Madrasah Aliyah Rifaiah Kedungwuni, Ahmad Saifullah,
menyambut hangat tim digitalisasi. Bagi komunitas ini, naskah-naskah tersebut
bukan sekadar kertas tua, melainkan napas perjuangan K.H. Ahmad Rifa'i ibni
Muhammad—pahlawan nasional asal Kalisalak, Batang.
Tidak kurang dari 42 kitab tulisan tangan karya santri
generasi awal berhasil ditransfomasikan ke dalam format digital. Saifullah
mengenang kembali bagaimana tradisi menulis tangan (ngabsahi) menjadi
denyut nadi kehidupan pesantren di masa lalu, jauh sebelum mesin cetak dan
fotokopi dikenal luas.
Hingga hari ini, karya-karya Tarajumah Mbah Rifa'i
tidak pernah mati. Ajaran tersebut terus dihidupkan melalui majelis taklim dan
menjadi bagian utama dari kurikulum pesantren dengan porsi mencapai 70 persen.
Pengajarannya pun begitu membumi—menggunakan metode nadham atau syiiran
bernada melodi yang memudahkan ingatan warga meresapi pesan-pesan keagamaan.
Lebih dari sekadar syiar agama, jejak sosiologis dan sejarah
mencatat bahwa naskah-naskah kuno Rifaiah menyimpan doktrin perlawanan. Di
balik bait-bait syiirnya, K.H. Ahmad Rifa'i menanamkan semangat kemerdekaan,
sikap berdikari, dan keberanian menolak penjajahan kolonial Belanda, di samping
nilai-nilai keharmonisan dalam membina rumah tangga.
Kini, melalui jepretan kamera dan proses alih media digital,
lembaran-lembaran berharga itu tak lagi rentan hancur dimakan zaman. Warisan
intelektual dan kearifan lokal Pekalongan ini siap melintasi batas waktu, dapat
diakses secara luas, dan terus menyinari generasi mendatang.
Komentar
Posting Komentar