FOTO-FOTO PANEN RAYA JAGUNG 407 PADMAKUSUMA - KIPAN C WONOPRINGGO 19 FEB 2026
LAPORAN TEKNIS ACARA PANEN JAGUNG
Luas Lahan: 1 Hektare (10.000 m²)
Tanggal Panen: 18 Februari 2026
Usia Tanaman: 109 Hari
Lokasi: Kebun Ketahanan Pangan Kompi Senapan C Yonif 407 Padmakusuma
1. PROFIL PELAKSANAAN BUDAYA SAMPAI PANEN
Tahapan Budidaya yang Telah Dilaksanakan:
- Persiapan Lahan: Pemeriksaan dan pembukaan lahan sesuai jadwal awal
- Pengendalian Gulma: Aplikasi herbisida kontak + aplikasi sekam tanah
- Pemupukan Dasar: Soil fertilizer dan pupuk sintetis dasar
- Penanaman: Dilaksanakan pada 2 November 2025, sehingga mencapai usia tanaman 109 hari pada hari panen
- Pemeliharaan: Nutrisi benih, pupuk sintetis 1, kompos kandang, aplikasi DeRuci, pemangkasan rumput, herbisida selektif, pestisida kontak & sistemik, pupuk sintetis 2, serta aplikasi hara mikro telah dilaksanakan sesuai rencana
- Pemantauan Berkala: Pemantauan kondisi tanaman secara teratur menunjukkan kematangan optimal dapat dicapai pada usia 109 hari
Hambatan yang Dihadapi:
a. Gangguan Angin Kencang pada 10 Januari 2026
Pada 10 Januari 2026 (usia tanaman 70 hari, tahap awal generatif memasuki fase pembentukan tongkol), lahan seluas 1.100 m² (11% dari total area) mengalami gangguan cuaca ekstrem berupa angin kencang dengan kecepatan mencapai 45-50 km/jam. Kondisi ini menyebabkan sekitar 85% tanaman jagung di area tersebut rebah, dengan sebagian besar batang tanaman mengalami patahan pada bagian bawah dekat pangkal, serta beberapa tongkol yang sedang terbentuk mengalami kerusakan mekanis.
Setelah kejadian pada tanggal 10 Januari 2026, tim teknis bersama anggota Kompi Senapan C Yonif 407 segera melakukan penanganan dalam waktu 12 jam, antara lain:
- Pembenaran tanaman yang masih berdiri dan pengikatan menggunakan tali serta tiang penyangga sementara
- Pembersihan tanaman yang telah patah dan tongkol yang rusak untuk mencegah penyebaran penyakit dan hama
- Pemberian pupuk tambahan jenis kalium dan fosfor untuk mendukung perkembangan tongkol yang masih dapat diselamatkan
- Aplikasi fungisida kontak untuk mencegah infeksi jamur pada bagian tanaman yang terluka akibat tumbukan dan patahan
b. Kondisi Cuaca Ekstrem dan Status Tanggap Darurat Belakangan Ini
Sejalan dengan kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Pekalongan, berdasarkan berita dari berbagai sumber, pemerintah daerah telah mengambil langkah antisipatif dan penanganan darurat. Sebagaimana dilaporkan pada 4 Februari 2026 di situs resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sejumlah titik rawan limpasan air sungai Bremi dan Sungai Meduri di Kota Pekalongan telah dipasangi tanggul darurat berupa kantong pasir guna mengantisipasi banjir akibat curah hujan tinggi.
Selain itu, program bantuan kemanusiaan juga terus disalurkan, seperti yang dilaporkan pada 13 Februari 2026 di Portal Pekalongan Pikiran Rakyat, di mana BRI Peduli memberikan 200 paket survival kit dan 2.000 paket sembako untuk warga terdampak banjir di Pekalongan dan sekitarnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan terkait potensi bencana hidrometeorologi di Jawa Tengah, termasuk Pekalongan, dengan menyampaikan bahwa puncak musim hujan akan berlangsung hingga Februari 2026 dan dapat menyebabkan curah hujan intensitas lebat hingga sangat lebat, yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor. Sebagai bentuk antisipasi, status tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor telah diberlakukan hingga 23 Februari 2026 untuk seluruh wilayah Pekalongan, dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar korban dan pemulihan infrastruktur yang rusak.
Kondisi curah hujan ekstrem ini berdampak pada lahan pertanian secara umum, termasuk kebun jagung Yonif 407 Padmakusuma, di mana meskipun tidak terkena banjir langsung, kondisi tanah yang lembap berpotensi meningkatkan risiko serangan penyakit pada tahap akhir pertumbuhan tanaman.
2. KONDISI TANAMAN DAN HASIL PANEN HARI INI
- Indikator Kematangan Terobservasi:
- Warna tongkol telah menguning dengan baik
- Bulu jagung sebagian kering dan berwarna coklat muda
- Bijih jagung keras dengan warna khas varietas, kadar air terukur ±16%
- Hasil Panen yang Dicapai:
- Area Normal (8.900 m²): Hasil panen mencapai 5,9 Ton Gabah Kering Basah (rata-rata 6,63 Ton/ha pada area ini)
- Area yang Terganggu Angin (1.100 m²): Hasil panen sebanyak 0,3 Ton Gabah Kering Basah (rata-rata 2,73 Ton/ha pada area ini), dengan sekitar 30% bijih memiliki bentuk tidak rata akibat gangguan pada tahap pembentukan tongkol
- Total Keseluruhan: Sebanyak 6,2 Ton Gabah Kering Basah per hektare
- Kondisi Lahan dan Lingkungan: Cuaca cerah pada saat panen dengan suhu sekitar 28°C, memudahkan proses pengumpulan dan penyimpanan sementara. Meskipun curah hujan ekstrem terjadi di wilayah sekitar, lahan kebun memiliki drainase yang cukup baik sehingga tidak terjadi genangan air yang signifikan.
3. DETAIL PELAKSANAAN PANEN HARI INI
- Tenaga Kerja: Anggota Kompi Senapan C Yonif 407 sebanyak 12 orang, dibagi menjadi 3 tim kerja (2 tim untuk area normal, 1 tim khusus untuk area yang terganggu pada tanggal 10 Januari 2026)
- Sarana yang Digunakan: Alat manual (cekung, sabit), gunting khusus untuk memisahkan tongkol dari batang yang bengkok/patah, dan truk angkut militer untuk pengangkutan tongkol
- Tahapan Pelaksanaan:
1. Pemilihan dan pemotongan tongkol yang layak dari tanaman yang pernah rebah pada tanggal 10 Januari 2026
2. Pemotongan dan pemisahan tongkol dari batang tanaman di area normal
3. Penyortiran awal untuk memisahkan tongkol matang, cacat, hasil dari area terganggu, dan tongkol yang mengalami kerusakan mekanis
4. Pengangkutan ke gudang penyimpanan sementara di kompleks kebon
5. Pencatatan terpisah hasil per area oleh petugas khusus dengan mencatat tanggal penanaman, kejadian angin, dan kondisi cuaca belakangan sebagai catatan referensi
6. Apresiasi dan foto bersama sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras anggota Yonif 407 yang telah membantu penanganan dampak cuaca ekstrem sejak tanggal 10 Januari 2026 dan juga berkontribusi pada tugas tanggap darurat bencana di wilayah Pekalongan
4. REKOMENDASI PASCA PANEN DAN PENANGANAN HAMBATAN CUACA
- Pengeringan: Lakukan pengeringan secara alami di area terbuka yang bersih selama 2-3 hari untuk menurunkan kadar air menjadi ±14%. Hasil dari area yang terkena dampak angin pada 10 Januari 2026 disarankan untuk diproses dalam waktu 1 minggu ke depan karena risiko kerusakan akibat jamur dan serangga lebih tinggi.
- Pemisahan Bijih: Rencanakan penggunaan alat pemisah (thresher) pada hari berikutnya; pisahkan bijih berdasarkan kualitas (area normal untuk penyimpanan jangka panjang atau bibit, area terganggu untuk konsumsi langsung atau bahan baku pakan ternak).
- Penyimpanan: Gunakan wadah kedap udara yang telah disterilkan; bagi ruangan penyimpanan untuk memisahkan hasil dari area berbeda dan pastikan ventilasi yang cukup.
- Rekomendasi untuk Musim Tanam Berikutnya:
- Lakukan pembuatan parit drainase yang lebih baik dan penanaman tanaman penahan angin (seperti bambu atau pohon pisang) di sekeliling lahan serta pembuatan jalur angin pada area lahan untuk mengurangi kecepatan angin dan menangani limpasan air akibat hujan ekstrem.
- Sesuaikan jadwal tanaman (dengan mempertimbangkan tanggal penanaman 2 November sebagai acuan) agar tahap awal generatif (pembentukan tongkol) tidak bertepatan dengan musim hujan puncak yang biasanya terjadi pada akhir Januari hingga awal Februari.
- Pertimbangkan penggunaan varietas jagung dengan batang kokoh dan struktur tongkol yang lebih kuat, serta melakukan penyiraman terkontrol untuk menghindari pertumbuhan batang yang terlalu cepat dan rapuh.
- Siapkan paket peralatan tanggap darurat lengkap dengan tiang penyangga, tali pengikat, dan alat bantu drainase darurat untuk dapat melakukan penanganan segera setelah terjadinya cuaca ekstrem.
- Kerjasama dengan pihak berwenang untuk mendapatkan informasi peringatan dini cuaca dan ikut serta dalam program mitigasi bencana yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
- Evaluasi Selanjutnya: Lakukan analisis kimia dan fisik bijih untuk mengetahui pengaruh gangguan pada tahap generatif dan kondisi cuaca ekstrem terhadap kualitas, serta kerjasama dengan BMKG untuk mendapatkan data curah hujan rinci dan prediksi musim yang lebih akurat agar dapat menyusun jadwal penanaman yang lebih optimal.
Komentar
Posting Komentar